Pages

Sunday, December 20, 2009

Pengalaman Perpanjang STNK

Tanggal 20 Desember 2009, si mungil Honda Jazz Coklat Metalik M/T ulang tahun ke 5.  Waktunya perpanjang STNK.  Sejak masuk bulan Desember, saya sudah siapkan uang untuk bayar pajak dan berpikir, apakah akan mengurus sendiri atau minta tolong orang (calo maksudnya).

Lihat kalender, ternyata 20 Desember jatuh pada hari Minggu.  Dengan demikian, paling lambat Sabtu 19 Desember, saya sudah dapat STNK dan plat nomer baru.  Karena Sabtu di minggu-minggu sebelumnya saya ribet dengan orderan kue, walhasil baru tanggal 19 kemarin saya bisa urus STNKnya.  Itu pun setelah si ibu sms bilang klo kuenya buat Minggu tgl 20, bukan Sabtu...

Jam 07:30, saya keluar rumah dengan si mungil menuju Kantor SAMSAT Ciledug.  Sampai sana jam 07:40 , weleh weleh... kantor belum buka, tapi map merah berisi foto kopi KTP/STNK/BPKB sudah menumpuk di depan loket pendaftaran.  Langsung saya menuju tempat foto kopi untuk membeli map, fotokopi KTP, STNK, dan BPKB.  Biayanya Rp 4,000.-  Bapak petugas fotokopi bilang supaya saya langsung parkir mobil di tempat check fisik kendaraan.  Ya, karena sudah 5 tahun, akan dilakukan check fisik berupa penggesekan nomer rangka dan nomer mesin.  Alhamdulillah, si mungil adalah kendaraan roda empat pertama yang tiba di tempat check fisik dan dapat giliran nomer satu.

Jam 08:00, semua loket serentak dibuka.  Petugas check fisik yang sudah menyiapkan kertas + pensil, langsung menuju si mungil dan melakukan tugasnya.  Gak sampai 5 menit, selesai... dan kertas yang sudah digesek tadi dibawa ke kantor check fisik untuk divalidasi dengan nomer yang ada di STNK + BPKB.  Biaya Rp 25,000.-

Setelah itu saya menuju loket pendaftaran 1.  Di sini, ada petugas yang mengisi formulir berdasarkan masing-masing kebutuhan.  Untuk saya berarti: pembayaran pajak, perpanjang STNK, dan ganti TNKB.  Waktu tunggu +/- 10 menit.

Dari loket pendaftaran 1 di lt. 1 saya menuju lantai 2, untuk daftar ulang.  Di sini, saya menunggu kira-kira 10 menit sebelum nama saya dipanggil untuk menunjukkan BPKB asli. 

Dari sana, saya menuju Kasir.  Nah, di sini saya harus menunggu lebih lama, kurang lebih 30 menit.  Dugaan saya, karena formulir perpanjang STNK dipisahkan dari formulir yang hanya untuk bayar pajak.  Karena saya lihat, orang-orang yang namanya dipanggil belakangan di loket daftar ulang malahan dipanggil lebih dulu di kasir. 

Sambil menunggu, saya siapkan uang kira-kira Rp 1.6 juta...sejumlah pajak yang saya bayarkan tahun lalu.  Perkiraan saya tidak meleset jauh, total yang saya bayarkan Rp 1.623 juta, sudah termasuk biaya administrasi STNK + TNKB.

Dari Kasir saya menuju loket pengambilan STNK.  Lagi-lagi menunggu +/- 10 menit, sebelum nama saya kembali dipanggil.

Dari lantai 2, saya kembali ke lantai 1 untuk ambil plat nomer baru.  Tidak ada acara menunggu, karena plat saya sudah siap.  Saya diminta masuk ke dalam ruangan untuk serah terima plat.  Sewaktu saya tanya berapa biayanya, bapak petugas hanya mengatakan seikhlasnya saja bu... ;-)  Alhamdulillah, saya ikhlas mengeluarkan Rp 20,000 buat plat nomer baru + bonus plastik bungkus STNK.

Sebelum jam 10, urusan saya di SAMSAT Ciledug sudah selesai.  Beberapa hal yang saya amati di kantor SAMSAT ini adalah tertib dengan ruang tunggu yang luas, kursi tunggu yang banyak, dan tanda "DILARANG MEROKOK" di beberapa tempat.  Ada juga play ground untuk anak-anak, dengan area yang cukup luas dan alat permainan yang bagus... hmmm  kantor SAMSAT Ciledug

Note:

Si mungil sempat dipuji dan dibelai-belai oleh di petugas check fisik.  Menurut beliau, untuk mobil usia 5 tahun, kondisi si mungil sangat baik.  Mesin masih kinclong, body mulus, kilometer masih rendah.... Ya iyalah pak, lha wong cuma dipakai rumah kantor pp Senin-Jumat, dan buat keliling anter kue atau belanja kalau wiken.  Minumnya juga Shell Super atau yang setara... ganti oli (pakai Shell Helix) tiap 5000 km.  Si mungil ini sudah pernah ditawar dengan harga 80-110 juta lho....

Wednesday, December 16, 2009

My New Life without Braces.. :-))

Setelah tiga tahun dua bulan, akhirnya kemarin braces saya dilepas.  Agak aneh rasanya... plong dan tidak ada ganjalan lagi di gigi saya.  Hari ini, tiap sepuluh menit saya ngaca...dan mengagumi gigi saya.. huahahaha  Memang masih belum 100% bebas, malam hari saya masih harus pakai removable retainer (rahang atas) dan fix retainer di rahang bawah seumur hidup.  Walau demikian, pelepasan braces ini merupakan salah satu milestone saya di 2009

Saya kilas balik dulu....

Tiga tahun lalu mulut saya isinya berantakan karena gigi geligi yang gak cukup tempat (istilahnya crowding).  Sewaktu hal ini dirasa mulai mengganggu, saya datang ke dokter.  Terus foto panoramic, terlihat lah biang keladinya si gigi geraham bungsu yang impacted sehingga mendesak gigi-gigi di depannya.

Drg. Ria Budiati Sp.Ort bilang fix orthodonty appliance diperlukan pada kasus saya, untuk memperbaiki posisi gigi, dan memindahkan gigi2 ke posisi yang seharusnya.  Jadi tidak cukup dengan odontectomy (operasi pengambilan geraham bungsu).  Juga harus ada beberapa gigi yang harus dikorbankan, supaya ada ruang untuk gigi lain bergerak.

Hidup saya selama tiga tahun terakhir dengan braces, cukup menyenangkan.  Tidak pernah kurus karena gak doyan makan walaupun tetap harus menghindari beberapa jenis makanan seperti yang keras atau lengket.  Alhamdulillah juga tidak mengalami iritasi, karena Drg. Ria bekerja dengan haluuuus dan detail.  Hikmah yang saya dapat selama pakai braces adalah saya lebih rajin menggosok gigi :-)

Sebetulnya, braces saya bisa dicopot lebih cepat kalau saya lebih cepat odontectomy.  Karena selama masih ada gigi durjana tersebut, perawatan orthodonty saya akan sia-sia dan kemungkinan besar crowding lagi.  Baru setelah odontectomy bulan October 2009 yang lalu, Drg. Ria melakukan persiapan untuk lepas braces seperti cetak (untuk pembuatan retainer), koreksi akhir dengan pemakaian ligatur dibeberapa tempat (untuk mengikat dan memastikan tidak ada gigi yang bergerak).

Akhirnya, tadi malam perangkat ortho seperti rubber, wire, bracket dan kawan-kawannya serentak dilepas.  Kemudian dibersihkan, pasang fix retainer, dan coba removable retainer.  Oya, sempat dikasih obat apa gitu...ditempel di gigi sebulan sebelum dipoles kinclong bulan depan...

Hari ini, rasanya ingin senyum lebar teruuuus... hahaha  Karena the most obvious benefit of orthodontics is a beautiful smile *sambil senyum lebar dan indah pastinya*

Atas permintaan penggemar, berikut ini saya tampilkaaaan....

*maaf ya, belom kinclong soalnya belom dipoles dan masih pakai retainer*

Sunday, November 15, 2009

Sholat Khusyu itu Mudah

Kalimat di atas berulang kali diucapkan oleh. Ustad Ansufri Idrus Sambo.  Kemudian beliau meminta kami semua untuk mencatat dalam hati masing-masing… berapa lama waktu yang kami butuhkan tiapkali melakukan ibadah sholat?  5 menit? 10 menit?

Kata-kata berikutnya membuat saya berpikir… kenapa waktu saya untuk berdoa setelah sholat lebih panjang dibanding waktu sholat saya sendiri?  Padahal sholat itu hakikatnya adalah perjumpaan dan bentuk komunikasi kita kepadaNya.  Komunikasi sebagai ungkapan syukur ataupun berisi permintaan /permohonan.

Berapa banyak dari kita yang sholat di waktu jeda iklan di tivi?  Berapa banyak dari kita yang ingin cepat-cepat menyelesaikan sholat supaya tidak terjebak macet?  Berapa banyak dari kita yang sholat tapi pikiran malah sibuk menghitung berapa bonus yang didapat tahun ini…  Astaghfirullah!  Itu semua saya pernah lakukan dan saya malu… benar-benar malu kepada Allah yang senantiasa melimpahi saya dengan cintaNYA walaupun seringkali saya lalai…

Awalnya saya ragu untuk ikut pelatihan ‘Sholat Khusyu itu Mudah’.  Menurut saya, khusyu itu datangnya dari hati dan tidak perlu ikut pelatihan macam itu untuk bisa mendapatkan sholat yang khusyu.  Akan tetapi… sekarang saya bersyukur, saya memutuskan untuk datang ke acara itu.  Karena memang betul, sholat khusyu itu mudah.  Yang penting ada niat untuk mau sholat khusyu,yakinkan dalam hati bahwa sholat khusyu itu mudah dan terus berlatih untuk bisa khusyu.

Beberapa hal penting yang saya dapatkan dan ingat kembali dari pelatihan itu adalah:

·         Ucapkan bacaan sholat dengan jelas dan benar karena Allah dan para malaikatNYA mendengarkan dan memperhatikan bacaan sholat kita

·         Ucapkan bacaan sholat dengan lembut dan perlahan-lahan untuk bisa didengar oleh telinga kita sendiri

·         Latihan hati berbicara kepada Allah dengan cara menterjemahkan bacaan sholat dengan bahasa terjemahan komunikasi/dialog sehingga terasa Allah hadir (dekat) dengan hati kita

·         Mengulang-ulang bacaan beserta makna (contohnya, bacaan tasbih waktu ruku’ dan sujud lebih dari 3x)

·         Curhat (menjabarkan makna bacaan-bacaan sholat, khususnya pada bacaan duduk diantara 2 sujud & bacaan sujud) sesuai dengan masalah yang dihadapi atau harapan-harapan yang ingin dikabulkan

Sunday, November 8, 2009

Seminggu di Yogya

Hola!

Saya datang lagi.  Seminggu lalu saya ada di Yogya, untuk ikutan training yang awalnya saya daftar karena iseng belaka. Alhamdulillah, rejeki bagus… selesai operasi gigi, disuruh refreshing ke Yogya.  Saya gak pernah bosan ke Yogya.  Pernah saya tinggal selama dua minggu di sana, cuma untuk makan, tidur, jalan-jalan dan leyeh-leyeh

Kali ini, saya ajak Ibu dan Tante Hani.  Berangkat tgl 1 Nov, naik GA210, pulang tgl 7 Nov naik GA207.  Tante hani dengan noraknya bilang gini: “gila lu ye, ningnong….. gue sering banget ke yogya, tapi gak pernah naik GA.. mana nginep di Melia Purosani pula….emang service memuaskan banget deh ‘anak tiri’ gue yang satu ini” huahahaha

Thanks to C*****n, yang uda mau bayarin tiket pesawat dan hotel saya …  Emang servisnya memuaskan banget.  Kalo kata Ina, dipecatpun tak mau aku keluar dari C*****n 

Seminggu di Yogya, dikasih transport dan hotel enak, bikin saya kalap.  Kalap makan-makan, belanja-belanja, dan jalan-jalan.  Tak terkecuali, ibu + tante Hani…yang sehari bisa dua kali pelesir ke pasar Bringharjo  

Senin sampai kamis, saya ikut training.  Peserta training berasal dari berbagai latar belakang di industry migas.  Ada yang dari technical, planning, finance, dan operation.  Buat saya sendiri, materi training tidak benar-benar baru.  Keuntungan yang saya dapat adalah refreshed my brain and heart and my soul hahaha lebay…

Tiap sore selesai training, kami bertiga jalan ke malioboro.  Acaranya makan pempek Ny. Kamto.  Walaupun saya sudah pernah ke Palembang dan icipin pempek asli, lidah saya lebih cocok dengan pempek Ny. Kamto.  Lokasinya, terletak di belakang toserba RAMAI.  Selesai makan pempek, kami ke Mirota.  Cuci mata sambil pegang dompet kuat-kuat J J  Menjelang magrib, kami pulang jalan kaki ke hotel, buat mandi dan sholat.   

Malam hari, kami keluar lagi untuk makan malam.  Favorit kami adalah gudeg di depan pasar.  Penjualnya pakai gerobak, dan ada tempat untuk lesehan di sebelahnya.  Selain gudeg dan pelengkapnya (ayam suwir, telor, sambel goring krecek), di sini dijual juga sambel goreng jengkol (cihuiiiii), oseng-oseng mercon, dan oseng kikil.  Ketiganya secara bergantian jadi menu makan malam saya selama di Yogya.  Tentu saja saya tidak melupakan mie godog Yogya.  Kali ini saya pindah tempat di Bakmi Pele (dekat kraton) atau sekitaran malioboro.

Hari jumat, EO training mengadakan acara ke Candi Borobudur, Kali Urang, dan pusat oleh2 di Pathuk.  Gak ketinggalan dua orang emak-emak ikutan acara tour ini. 

Candi Borobudur sekarang terlihat lebih rapid an bersih sejak terakhir saya ke sana.  Penjual barang dan makanan hanya dibatasi sampai pagar sebelum pintu masuk.  Tidak terlihat lagi para penjual di pelataran bawah sekitar candi. 

Di bawah ini, foto sebagian peserta training + dua emak-emak bodyguard saya  

Di sebelah saya, foto stupa yang selamat dari terror bom beberapa tahun lalu. 

Arca di dalamnya bernama Kuntobimo.  Pssst, saya berhasil menyentuh arca itu lho…ada tekniknya sih…sudah didemokan oleh guidenya. 

 

 

Ini foto saya dengan emak.  Liat, emak gue awet muda kan? Hihihihi

Dari Borobudur kami meluncur ke Kali Urang.  Tidak lupa mampir makan siang mangut ikan nila dan belanja salak pondoh di kebunnya. 

Di Kali Urang, kami masuk ke museum Ullen Sentalu (Museum Budaya Yogya).  Museum ini diresmikan tahun 2002 (?), berisi sejarah dan asal muasal keraton kesultanan Yogya, sejak jaman Panembahan Senopati diikuti perjanjian Gianti yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.  Museum ini juga menyimpan berbagai koleksi kain batik, baju-baju adat, foto-foto, dan surat-surat .  Kunjungan diakhiri dengan minum wedang hangat yang terbuat dari jahe, kencur, gula merah, daun jeruk, cengkeh dll.  Hmmm, nikmat….

Terakhir, belanja oleh-oleh di Pathuk.  Kami dibawa langsung ke pabrik Bapia Pathuk 25.  Huhuhu batere kamera saya habis, jadi saya tidak bisa mendokumentasikan para pekerja pabrik Bapia in action.

Yogya, memang berhati nyaman…  bikin hati tentram…  saya ingin liburan ke sana lagi… kotanya ngangeni…makanannya juga… Tapi tadi pagi, saya timbang badan… seminggu di yogya, berat badan naik 3kg!!  Waduuuh, payah!!

Friday, October 30, 2009

[Hajj] Berbagi pengalaman, buat yang ingin berhaji

Seminggu lalu, kloter pertama jamaah haji Indonesia berangkat menuju tanah suci.  Huhuhuhu rasanya, ingiiin sekali berangkat lagi.  Terharu sekali melihat wajah2 sumringah calon jamaah yang akan berangkat memenuhi panggilanNya.

Teringat pengalaman saya setahun yang lalu, ketika saya dan ibunda berangkat untuk menunaikan rukun islam yang ke lima.  Yang pertama untuk saya , dan yang kedua buat ibunda.  Kalo menurut ibu, insya Allah itu untuk menyempurnakan ibadah haji sebelumnya yang beliau jalani berdua Alm. Bapak tahun 2003.  Saya ingin berbagi pengalaman saya sedikit asal muasal saya berangkat haji.  Semoga tidak dianggap riya…dan semoga bisa bermanfaat buat yang membaca.  Amin.

Ya, siapa yang menyangka saya bisa berangkat tahun 2008 padahal saya baru mendaftar bulan July 2007.  Waktu itu, saya cuti dan menemani ibu ke pasar Ciledug.  Entah ada bisikan apa, selesai belanja, kaki ini melangkah ke ruko di dekat pasar Ciledug, saya menuju bank BNI.  Langsung saya menuju customer service dan mengatakan ingin membuka tabungan haji buat saya dan ibu.  Bismillah, saat itu juga saya debit tabungan sejumlah minimal untuk mendapatkan nomer porsi DepAg.  Saat itu saya betul-betul belum tahu, saya akan ikut KBIH apa dan berangkat tahun berapa.

Sampai rumah, ibu langsung nelpon salah satu teman baiknya.  Subhanallah, temen ibu ini ternyata berteman baik dengan seorang kyai, pemilik salah satu KBIH di Cipondoh Tangerang.  Langsung lah suami teman ibu itu nelpon pak Kyai, daftar nama kami berdua, dan bilang terserah mau berangkat kapan saja.  Dua hari kemudian, Alhamdulillah…. Kami ditelpon pak Kyai, yang membawa kabar baik bahwa kami bisa ikut gabung tahun 2008.. dan nomer porsinya akan segera diurus di DepAg.   Adalah tidak menyangka, ketika saya dapat konfirmasi saya itu.  Sujud syukur berulang kali saya sembahkan untuk Allah SWT… karena sekali lagi Dia menunjukkan bahwa ketika saya ikhlas maka hal terbaiklah yang bisa saya dapatkan.

Betul-betul tidak menyangka…  Saya daftar ONH regular, yang kabarnya bisa antri bertahun-tahun untuk berangkat… malahan tidak perlu antri sama sekali.  Banyak yang menyangka saya gabung dengan ONH plus… Sebelumnya saya pernah ngobrol sama ibu, waktu ngajak beliau naik haji lagi, dan saya tawarkan mau ONH biasa atau plus?  Dengan yakin, ibu menjawab: ONH biasa saja, nikmatnya luar biasa… bisa berada lama di tanah suci.  Ibu juga bilang, kita tidak memiliki keterbatasan waktu kenapa mesti cepat-cepat pulang ke Indonesia.  Yak, masalah waktu adalah salah satu alasan calon jamaah haji plus.  Ibu juga bilang, kelebihan uang (selisih biaya haji plus – ONH regular) bisa dipakai buat memberangkatkan orang lain berhaji.  Masya Allah, ibu…

Entahlah… yang saya rasakan adalah suka cita yang luar biasa…  Karena tanpa target apa-apa, saya malah mendapat hal yang luar biasa.  Betul saya merasakan, ketika Allah sudah mengundang hambaNya untuk datang, maka amatlah mudah jalan yang Dia berikan.  Buat kawan-kawan semua…ketika panggilan itu sudah dirasa, cepatlah setor duit J  berapapun yang dimiliki… Berbaik sangka sama Allah, bahwa Dia akan memberi kemudahan dan kelapangan rejeki … dan pasrah lah…akan waktu keberangkatan yang didapat Allah Maha Tahu yang terbaik buat hambaNya…

Tuesday, October 27, 2009

Odontektomi... Pengalaman Mondok Semalam di Rumah Sakit

Hai hai… gak pernah update blog, sekali diupdate, isinya cerita tentang operasi gigi J

Iya, benar! Akhirnya 4 gigi geraham bungsu (wisdom tooth) saya dibuang minggu kemarin.  Setelah tertunda 7 bulan karena jadwal kantor yang padat dan mental yang belum kuat, akhirnya saya memutuskan untuk operasi gigi geraham bungsu.

Kenapa gigi bungsu itu harus dibuang?  Karena… kalo kata orthodontist saya, gigi bungsu itu banyakan mudaratnya daripada manfaatnya. 

Dua gigi bungsu atas (kiri kanan), keluar atau biasa disebut erupted.  Tapi gigi-gigi yang keluar ini mengganggu gigi-gigi di sebelahnya.  Karena letaknya yang dalam dan sulit dijangkau sikat gigi, kebersihannya kurang terjaga.  Akibatnya, gigi geraham itu sering bengkak karena infeksi.  Kuatir infeksinya menyebar ke gigi sebelah, maka… gigi-gigi itu harus dibuang.

Dua gigi bungsu bawah (kiri kanan), tidak keluar, karena tidak cukup ruang di rahang bawah.  Akibatnya gigi ini mengalami apa yang disebut horizontal impacted.  Hal seperti ini adalah biasa, dan banyak terjadi.  Pada kasus saya, gigi impaksi itu letaknya terlalu dalam, dan dekat sekali dengan syaraf dan pembuluh darah besar (nerve and blood vessels).  Resiko bila gigi-gigi itu diambil dan terkena syaraf, maka saya akan mengalami baal (kebal) permanen ataupun sementara  di sekitar rahang bawah, bawah bibir dan lidah.

Hmmm…. Serem ya?

Apabila tidak diambil, resikonya gigi depan saya akan crowding setelah braces saya dilepas.  Crowding atau shifting ini bisa terjadi akibat desakan gigi geraham bungsu yang horizontally impacted tadi, yang tekanannya sangat kuat.  Pilihannya, saya harus pakai braces seumur hidup atau gigi depan saya maju mundur.

Huhuhuhu… bukan pilihan yang menyenangkan…

Saya banyak bertanya sana sini, baca-baca referensi di internet, dan cari second opinion ke dentist lain, keputusannya sama:  odontektomi alias operasi pengangkatan geraham bungsu.

Tahap pertama yang saya lakukan adalah konsultasi dengan dokter bedah mulut (drg Abdul Latief, SpBM – RS Pondok Indah).  Berbekal hasil foto rontgen panoramic, dr Latief bilang untuk meminimalkan resiko, operasi akan dilakukan dengan bius total.  Terus, gusi saya akan dirobek, dan gigi geraham yang melintang akan dipotong-potong, baru dipunguti J J hihihi ngilu dengernya  Dengan proses ini, trauma pada syaraf dan pembuluh darah bisa dihindari.

Setelah itu, saya melakukan test lab (darah dan urine) komplit + photo thorax.  Pemeriksaan ini perlu dilakukan karena saya akan dibius total.  Hasil test darahnya, laju pembekuan darah saya lambat L dan saya harus  minum vitamin K selama seminggu sebelum operasi.  Sedangkan hasil foto thorax bagus, kata dokternya komposisi jantung dan paru-paru seperti atlet huahaha atlet egrang dari hongkong ya dok.. :P

Saya dioperasi tgl 23 oktober, jam 4 sore dan saya diingatkan untuk  puasa mulai jam 8 pagi.  Eh dokternya baik deh, pagi-pagi jam 9 nelpon saya, ngingetin.. jangan lupa puasa ya J

Berangkat jam 10 dari rumah, sempat dimarahin emak karena pengen bawa mobil sendiri.. wakakaka susah deh klo pembalap… bawaannya gatel klo gak nyetir J J Saya bilang, ini kan operasi ringan, bu.. tapi untung jg gak jadi nyetir sendiri… karena efek bius setelah operasi cukup panjang hahaha

Tiba di rumah sakit, saya urus-urus kamar dan konfirmasi surat jaminan dari kantor. Hihihihi saya dapat kamar kelas I di maternity ward.  Bookingnya VIP, tapi penuh karena sedang ada renovasi.  Akhirnya saya pasrah aja waktu dikasih tau, saya dapat di kelas I wing C tempat orang melahirkan.  Temen sekamar saya juga ternyata pasien bedah.

Jam 12 siang, ada kunjungan dari dokter anesthesia.  Kunjungan ini dilakukan untuk mengetahui keaadan pasien sebelum dioperasi dan untuk mempertimbangkan obat2 anestesi yang akan dipakai. Prof. dr. Ruswan Dahlan Sp. An(?) mengajukan beberapa pertanyaan seperti: pernah/tidak dioperasi, ada alergi obat/tidak.  Dokter Ruswan bilang, dia akan mendampingi saya sampai saya sadar nanti.  Alhamdulillah…

Jam 13, drg Latief datang, kasih tau kalau operasi dimajukan jadi jam 15:00.  Oiya, sejak kedatangan, tekanan darah dan suhu tubuh saya diperiksa tiap jam.  Tensi saya yang biasanya normal di 80/60 sempat naik ke 130/80 sebelum akhirnya stabil di 120/70.

Jam 14, saya disuruh ganti baju operasi, buka kontak lens, lepas jam dan cincin.  Sempat saya tanya perawat, baju dalam dipakai atau tidak?  Perawat bilang, harus dilepas… masuk ruang operasi harus steril… hihihihi saya kan mau operasi gigi, bukannya mau melahirkan J

Jam 15, saya digiring menuju ruang operasi pakai kursi roda.  Saya masih bawel lah di sini… minta ibu, tante Hani dan Oom Firdaus buat pulang.  Kasian kan klo mereka pake nginep sementara operasi saya Cuma operasi ringan.. hihihi kesannya cemen banget…

Terus saya dipasangi topi operasi yang warna hijau, dipasangi infuse di tangan kiri dan masuk ke kamar operasi.  Dr. Latief masuk dan ngajak ngobrol.. sepertinya supaya saya rileks.  Terus beliau minta izin sholat Ashar.  Sementara itu, perawat bedah memasang automatic tensimeter di tangan kanan dan alat monitor jantung di dada.  Mas perawat bedah itu juga bilang, nanti kalau sudah tidak sadar, saya akan dipasangi selang oksigen di hidung J

Terakhir saya melihat jam adalah jam 15:30, sewaktu dr. Ruswan memasukkan obat bius ke dalam saluran infus.  Saya lihat beliau bawa 3 tabung, tapi baru tabung pertama yang masuk…saya sudah teler..terbius, dan tidak sadarkan diri.

Ketika saya sadar, sayup-sayup saya dengar adzan magrib dari mushola di lt 2.  Pandangan saya kabur, dan tenggorokan saya kering.  Refleks saya langsung menuju ke daerah bibir, lidah dan sekitar pipi.  Alhamdulillah, saya masih bisa merasakan semuanya.  Kekhawatiran terbesar saya tidak terjadi.

Ternyata, proses pemulihan saya sejak sadar pertama kali, makan waktu cukup lama.  Jam 20:00 saya dibawa kembali ke kamar.  Saya masih error, dan berasa blo’on… tapiiii bawelnya teteeeeep J  Dengan mulut masih tersumbat tampon, saya minta ibu saya buat pulang saja.. hihihih kasian kaaaan karena saya gak dapet kamar VIP, ibu gak bisa ikut istirahat dengan layak dan enak.

Keluar kamar operasi, dr. Latief member saya satu ampul berisi gigi-gigi yang diambil.  Waktu saya bandingan dengan xray nya, yang atas, diambil dengan rapi dan utuh, tapi yang bawah harus dipotong-potong, sesuai rencana.

Jam 22:30, tampon dibuka dan saya boleh minum.  Aaaah, enaknya minum teh manis hangat.  Alhamdulillah lagi, saya tidak mengalami perdarahan.

Paginya, saya sudah boleh sarapan bubur sumsum.  Huaaa, seperti biasa, saya makan dengan lahap.  Tapi, karena masih ada efek bius dan obat penahan rasa sakit, kira-kira satu jam setelah sarapan, saya pusing dan mual.  Perawat minta saya untuk tidur saja.. jangan lawan efek biusnya..

Jam 9 pagi, dr. Latief datang.  Menanyakan kabar saya dan apa yang saya rasakan di sekitar mulut dan daerah operasi.  Tentu saja beliau gembira, waktu saya bilang tidak ada perdarahan, tidak kesemutan apalagi baal.  Karena kalau sampai baal atau kesemutan, ada treatment lanjutan.  Dokter jg bilang, saya boleh gosok gigi dan beraktivitas seperti biasa.  Yaay…

Jam 11, saya ke admission, urus administrasi and persiapan check out.  Boooo, operasi odontektomi 4 gigi, bius total, dan rawat inap satu malam ngabisin biaya 21 juta rupiah saja.. Mahal ya?  Kurang lebih sama dengan biaya melahirkan dengan operasi Caesar J J  Bedanya, kalau operasi Caesar dapat bayi, operasi gigi, giginya malah dibuang hihihii

Jam 12, saya makan siang, bubur nasi putih dengan lauk puyunghai, tumis tahu, dan sop daging yang empuuuuk sekali.

Jam 13, saya pulang.  Masih teler dan melayang layang…tidur terus sepanjang perjalanan pulang.

Hari ini, 4 hari setelah operasi, bengkaknya berangsur hilang dan nyeri dibagian yang dijahit sudah jauh berkurang.

Tuesday, August 25, 2009

Yaaayy,... I'm on magazine :))

Cihui...akhirnya majalah yang ada profilku terbit juga. Mungkin terlambat ya, karena udah banyak temen-temenku yang masuk majalah, lebih karena usaha kue rumahan ataupun produk spesialis asap (Stella).

Salah besar kalau mengira, saya masuk majalah karena usaha kue rumahan yang saya jalankan juga seperti teman-teman lain. Hihihi.... aku masuk spesial section majalah CHIC no. 44, 26 Agustus - 9 September, dengan judul: Kaya Lewat Passive Income.

Isinya tentang gimana cara saya dapat income tambahan.  Di situ ditulis 5 juta rupiah perbulan.. hehehe malu deh aku, gak ada apa2nya jika dibanding para Director di Oriflame yang bisa dapet Rp 10 juta/bulan.  Tapiiiiiiiiiiiiiii....kalau dibaca lebih detail lagi, Rp 5 juta/bulan itu saya dapat cuma dari 3 instrumen investasi yaitu ORI4, ORI5, dan Syukri (Syukuk Retail - Obligasi Syariah).  Pada kenyataannya, jumlah yang saya dapat lebih dari itu, dengan reksadana saham sebagai penyumbang utama.  Belom lagi dari deposito dollar dan rupiah, waduh.... return yang saya dapet sejauh ini dari deposito udah banyak banget, bisa buat beli rumah tipe 55 di Graha Raya... huahahaha peaceeee.... gak salah deh, klo dibilang asset yang saya miliki udah sekian em.... embeeeeerrrrrrrrrrrrrrr maksudnya.

Pesan saya buat teman-teman, supaya bisa kaya dan senang-senang sama-sama, yuk mulai berinvestasi dari sekarang.  Jangan kebanyakan belanja yang gak penting.  Saya bisa beli tas LV seharga 35 jt minimal 1 buah tiap bulan dari hasil investasi saya. Tapi buat apa?  Tas gak bisa beranak pinak.  Jadi, lebih baik keuntungan yang saya dapat, saya jadikan modal lagi. 

Modal saya dulu cuma 10 juta rupiah dimana pada saat yang sama udah ada kawan yang portofolionya lebih dari 1M... dan sekarang, portofolio saya uda bisa bikin merem melek deh...