Wednesday, March 20, 2013
Obrolan (Bocor) Gak Penting
Bocor 1
Sabtu siang, kelar nyelam pertama.
Glenn (G): Ok sekarang kita istirahat dulu, santai-santai, makan siang
Ira (I): Makan siang? Horeee!
Nining (N): Sllrruuppp
Bapak2 di dermaga: Hahaha lapeeerrr ya *dengan pandangan menuduh*
Bocor 2
Sabtu malam, kelar dinner.
Ditengah obrolan hot mengenai kucing, Chucky nunjuk seekor kucing yang kaki depannya nginjek tanah berulang-ulang.
C: klo kucing kakinya kayak gitu, berarti waktu kecil kurang netek
N: ya udah elo tetekin sana
C: mana sinih pinjem teteknya
N & I: *keselek martabak*
Bocor 3
Minggu pagi, penyelaman pertama. Sebelum nyebur ke laut saya liat wet suit mas Glenn belom diseletingin.
N: Mas, seletingnya belum sampe ujung tu
G: Gapapa, I feel sexy
I: Sexy? padahal gendut
Rame-rame di perahu: Hahahaha *ketawa buto ijo*
Bocor 4
Minggu siang, kelar lunch. Ada ayam lepas dari kapal, masuk ke area resort Ody Dive. Kembali terjadi dialog bocor antara Ira dan mas Glenn.
I: Itu ayam kate ya Mas? *sambil nunjuk ayam yang sedang dikejar pemiliknya*
G: Menurut gue semua ayam itu kate.. *datar*
I: Iya yaa, yang tinggi tu jerapah
N: *ngunyah kerupuk*
Bocor 5
Lagi duduk-duduk nunggu kapal berangkat. Telinga saya masih terasa gak enak, penuh tapi bukan karena air.
N: Ra, elo budeg gak?
I: hah? Apaaa?
N: ELO BUDEG KAGAK? *suara lebih keras*
I: HAAAH? APAAAA? Oooo Budeg... KAGAAAKK GUE KAGAK BUDEG
Bocor 6
Menunggu makan malam dihidangkan, ngobrol-ngobrol di meja makan. Ira kenalan sama Chucky.
I: Halo, saya Ira
C: Saya Deni, tapi biasa dipanggil Chucky
I: oooh kamu Robi-nya..
C: Maksudnya?
I: pak Robinya ABG ABG itu..
C: itu namanya dive master
Gosh, it was my first dive ever... and now i've already missed that! Sakawww... Nyesel saya gak belajar diving dari dulu.
*Lanjutin brosing alatselam dan lautanmas*
Tuesday, March 19, 2013
Open Water Dive Course with Ody Dive
Ody Dive tempat saya belajar diving tuuuu PADI 5 Star Dive Center. Mungkin macam hotel, ada bintang satu, bintang dua... makin banyak bintang, makin tinggi ratingnya. Gitu kali ya?
Nah, mengikuti standar PADI, untuk Open Water Course ada empat tahap:
- Knowledge development, 4 modul, tiap modul liat video, belajar prinsip dasar menyelam, dan kuiz (total 6 jam)
- Confined water dives, untuk belajar kemampuan dasar menyelam (3-4 jam)
- Ujian teori, 50 soal. Untuk lulus, jawaban yang betul minimal 75%
- Open water dives, untuk review skill dan test dan explore.
- Jadwal bisa dibuat fleksibel
- Instruktur yang profesional dan berpengalaman
- Punya kolam sendiri untuk confined water dive
- Punya stok peralatan banyak, dengan berbagai ukuran dan model
- Punya resort dan dermaga sendiri
Proses belajarnya sangat, saya ulangi yaa sangat menyenangkan. Saya mulai belajar teori di kelas tanggal 3 Maret, setelah saya menyelesaikan 5K running race. Saya pikir, saya akan mengantuk di kelas dan berdoa supaya kelas cepat selesai. Kenyataannya, teori di kelas pun sangat menarik. What they show on the video, diving is fun... Nah supaya fun, harus ada basic skill yang dimiliki. Nggak terasa, waktu 6 jam berlalu begitu aja, dan selesai deh belajar teori, dan saya tidak mengantuk!
Minggu berikutnya, saya belajar di kolam. Confined water dive. Belajar pakai wet suit, fin, dan masker yang bener. Belajar pasang alat yang betul dan aman, buddy check, belajar beberapa cara nyemplung ke air, dan belajar cara komunikasi di dalam air.
Di dalam air, belajar bernapas dengan regulator, mask clearing, regulator recovery, free flow regulator breathing, dan alternate air source. Semuanya seru... dan kalau ada yang belum yakin atau gak pede, bisa diulang-ulang sampai bisa.
Di kolam dalam saya belajar turun sambil equalisasi, natural buoyancy, dan mask replacement. Sewaktu masuk kolam dalam, telinga agak sakit. Saya bolak balik naik, ekualisasi, turun, ekualisasi, sampai akhirnya tiba di kedalaman.
Gak terasa lho... semua ini selesai dalam waktu empat jam. Kalau muridnya tidak sebolot saya, mungkin bisa kelar dalam waktu tiga jam... hahahaha
Jumat minggu berikutnya, janjian dengan Mas Glenn untuk ujian teori. Seperti pernah dikasih tau sebelumnya, akan ada 50 soal, dan harus bisa menjawab benar minimal 75%, dalam waktu 1 jam. Waaaa...belom apa2 udah jiper deh! Eh tapi... it went well lho booo, cuma soal nomer 46 yang agak lama. Ini mengenai repetitive diving 3 kali, dan penggunaan dive table. Sewaktu review jawaban, cihui.. saya cuma salah dua! Teori lulus, tinggal praktek deh...
Sabtu-Minggu, jadwal Open Water Dive di Pulau Pramuka. Berangkat dari Bintaro jam 6, sampai di Marina Ancol jam 7 lewat, dan Mas Glenn sudah ada di situ. Selain saya dan Ira, ada juga Cita yang akan ikutan materi open water. Kami naik perahu cepat, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, dan tiba di Pulau Pramuka jam 9.
Wednesday, May 2, 2012
Catatan Umrah 2012 (bag. 2)
Setelah beberapa kali melakukan perjalanan ke tanah suci baik untuk haji atau untuk umrah, saya dan ibu memiliki kebiasaan tertentu. Kebiasaan ini mulai dari cara kami melakukan persiapan, dan kegiatan selama di Mekah/Madinah. Saya tulis di sini ya, semata-mata untuk berbagi dan semoga bisa bermanfaat buat temen semua.
Persiapan kami ada dua macam, yaitu persiapan jasmani dan rohani. Kita mulai dari persiapan rohani dulu yah.
Persiapan Rohani:
Kesempatan menjadi tamu Allah ke Baitullah itu adalah nikmat yang luar biasa. Karena itu, banyak-banyak bersyukur dan kembali meluruskan niat semata-mata karena Allah. Bentuk rasa syukur ada macam-macam, misalnya perbanyak sedekah, perbanyak baca Al-Quran, dan perbanyak shalat sunnah seperti dhuha dan tahajud. Saya dan ibu sebenernya malu yah, kok sepertinya ibadah kami naik turun, gak naik terus aja. Tapi kami cuma manusia biasa yang banyak dosa. Makanya, kami perbanyak shalat taubat dan istigfar untuk minta ampun sama Allah. Semakin dekat waktu keberangkatan, semakin tinggi frekuensi shalat taubat-nya
Persiapan Jasmani:
Menjaga kesehatan penting karena ibadah haji/umrah itu juga merupakan ibadah fisik, di mana Mekah/Madinah plus Arofah/Mina/Muzdalifah (kalau haji) sungguh berbeda dengan Indonesia. Alhamdulillah, sejak lama saya dan ibu punya kebiasaan jalan pagi setiap hari Minggu. Bahkan mulai tahun 2012 ini, saya olah raga minimal 3x/minggu. Hasilnya, saya merasa makin fit dan sehat. Jadi, selama di tanah suci, Alhamdulillah tidak ada hambatan fisik berupa pegel-pegel atau capek setelah tawaf/sa’i.
Saya dan Ibu hampir tidak pernah beli barang-barang perlengkapan umrah baru tiap mau pergi. Kalau sedang tidak dipakai, barang-barang itu disimpan di container plastic. Jadi mudah carinya pas diperlukan. Bawaan kami simple aja, kagak pake ribet.
Untuk perjalanan 10 hari pp, kami bawa: koper besar, backpack (buat saya) atau handbag (buat ibu), dan tas kecil selempangan (isi paspor, Al-quran kecil, henpon, kamera, dan sarung tangan buat shalat di pesawat)
Isi koper besar:
· gamis buat ke mesjid dan buat baju ihram (baju ihram tidak harus putih yaaa)
· celana panjang kaos buat daleman gamis
· baju tidur
· jilbab dan mukena dan sarung tangan
· sajadah tipis (buat jaga-jaga kalau shalat di luar mesjid)
· alas kaki buat ke mesjid (saya pake sandal jepit crocs)
· baju hangat sesuai keperluan (cek dulu cuaca di sana, kmrn saya gak bawa karena di Medinah sudah ‘hangat’)
· kaos kaki
· daleman jilbab
· detergent sachet buat nyuci baju di hotel
· gunting kuku dan gunting rambut
· makanan ringan (saya bawa biscuit oatmeal dan dark chocolate)
· kopi instant (saya bawa indocafe coffee mix favorit)
· pocari sweat bubuk à buat dicampur dengan air zamzam dan diminum setelah tawaf.. segar!
· tumbler Tupperware à tempat kopi buat bawa ke mesjid
· tas kain kecil buat ke mesjid
· charger kamera
Isi backpack:
· obat2an pribadi termasuk supplement/vitamin
· satu stel baju ganti (termasuk daleman, jilbab, dan kaos kaki) à antisipasi nginep krn pesawat delay dll
· handuk kecil/tipis
· perlengkapan mandi (buat berdua sama ibu)
· perabot lenong (pelembab biar kulit gak pecah2)
· makanan ringan
· charger hape
· satu stel mukena
· tissue basah dan tissue kering
Bawa pakaian dan barang2 itu seperlunya aja, dan kebutuhan tiap2 orang beda. Cukup buat saya belum tentu cukup buat yang lain, makanya saya gak sebutin jumlahnya di situ.
Perlengkapan mandi, saya sharing sama ibu, luumayan buat ngurangi beban bawaan. Kalo perabot lenong sih bawa sendiri-sendiri karena barang yang kita pake jenisnya beda.
Duit riyal bisa tuker di Indonesia ataupun di Mekah/Madinah. Biasanya, saya bawa riyal pecahan kecil sisa perjalanan sebelumnya dan rupiah buat ngupi2 cantik sambil nunggu boarding di Soetta.
Ini perbandingan kurs tukar bulan April lalu di beberapa tempat:
· money changer di JKT: 1 SAR ~ Rp 2,650 - 2,670 belum tentu ready stok, ada yang kudu pesan dulu
· money changer di bandara Soetta: 1 SAR ~ Rp 2,550 belum tentu ready stok
· money changer di Mekah: sejuta rupiah ~ 370 – 390 SAR atau 1 SAR ~ Rp 2,631 – 2,703, tergantung lokasi. Makin dekat masjid, makin mahal
· ambil riyal di ATM berlogo khusus. Sudah termasuk administrasi setiap penarikan, 1 SAR ~ Rp 2,578.
Kebiasan-kebiasaan kami di Mekah/Madinah:
· tawaf sunnah setiap selesai shalat subuh
· beli swarmah buat sarapan (padahal hotel sedia makan 3x sehari)
· bawa plastic buat tempat sandal tiap ke mesjid, walaupun sekarang masjid menyediakan plastic tapi sering habis
· shalat sunnah wudhu tiap selesai berwudhu, minta Allah untuk menjaga wudhu kita
· membawa kopi dan makanan kecil ke masjid, buat obat lapar dan ngantuk.
· Gak pernah pulang ke hotel setelah shalat ashar, tapi menunggu magrib dan isya di mesjid sambil ngaji atau tawaf keliling kabah (di Mekah) atau jalan-jalan di mall (di Medinah)
Monday, April 30, 2012
Catatan Umrah 2012 (bag. 1)
Alhamdulillah, awal April yang lalu saya dan ibu kembali melakukan perjalanan rohani ke Tanah Suci untuk umrah.
Kalau tahun-tahun sebelumnya selalu ke Madinah lebih dulu, maka kemarin kami langsung ke Mekah. Check in hotel pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh berkumandang dari Masjidil Harom. Nginep di hotel Le Meridien, janjian untuk ketemu mbak Esther -yang menginap di hotel yang sama. Tapi apa mau dikata, mbak Esther dan pak Bambang pulang ke Abu Dhabi dengan pesawat pagi. Jadi kami sisipan jalan.. huhuhu
Alhamdulillah, ibadah umrah pertama berjalan lancar. Masjidil Haram dan Ka'bah yang megah selalu berhasil membuat saya terharu. Rasanya dada saya penuuuh sama rasa haru, bahagia, dan berbagai perasaan yang campur aduk jadi satu. Doa saya di sana selalu," Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhir saya"
Yang terasa berbeda dari ibadah umrah tahun-tahun sebelumnya, saya tambah sayaaaang sama Ibu. I will do anything for her, apapun yang dia minta, yang dia omongin, akan saya lakukan selama saya sanggup. Perjalanan itu mendekatkan kami berdua. Semoga bisa terus seperti ini, Aamiiin...
Di Mekah, seperti biasa Ibu cuma beli: sendal di toko langganannya (depan Elaf Almashaer Hotel). Hihihi jauh-jauh ke Mekah kok belinya sendal? Ibuku itu punya ukuran kaki yang besar, panjang dan melebar di bagian depan. Kalao di Indonesia, yang cocok cuma Scholl dan Hush Puppies. Tapi waktu ibu pergi haji sama alm. Bapak tahun 2003, Ibu perhatiin orang-orang Turki yang badannya guede-guede, kok enak aja jalannya pake sendal gede, yang awalnya disangka berat. Ternyata, sendal itu ringan dan yang paling penting, murah! Walhasil, ibu beli dua pasang.
Nginep di hotel Le Meridien, saya kalap! Makanannya endeeeuuusss, terutama dessertnya. Lihat deh tu, ada strawberry cream cake, tiramisu, baklava, orange cheese cake... Gawat!!
Dari Mekah, lanjut ke Madinah. Payung-payung di pelataran masjid, sejauh mata saya sanggup melihat, sudah jadi. Subhanallah, baguuus sekali. Gak kuatir kepanasan kalau shalat dzuhur dan asar di luar.
Kegiatan di Madinah adalah shalat wajib dan memperbanyak shalat sunnah di Masjid Nabawi. Selain itu, ziarah ke Raudhah, alias taman surga, di mana ada makam manusia paling mulia sepanjang zaman, Muhammad SAW dan dua sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A dan Umar bin Khattab R.A.
Seperti biasa, dalam perjalanan menuju Raudhah, mulut ini tidak bisa berhenti membaca salawat serta salam untuk beliau. Alhamdulillah, bisa shalat dengan tenang di Raudah, di samping sebuah tiang, yang menghadap lurus ke mihrab. Boleh dong kalau saya happy...
Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, saya membaca sebuah leaflet yang saya terima waktu ziarah ke Jabal Uhud. Intinya mengenai kunci-kunci rezeki. Salah satunya caranya adalah dengan melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya.
Bahwa Rasulullah pernah berkata: "Lanjutkan haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan surga” (HR Tirmidzi)
Subhanallah wal hamdulillah...
Tuesday, December 6, 2011
Teluk Kiluan, Surga Lumba-lumba di Lampung Selatan
Arrrgghhhh.. selalu seperti ini tiap kali pulang liburan. Males nulis, cuma bisa ngelamun...atau ya, liat-liat foto dan videonya berulang-ulang.
Cuma, saya sudah terlanjur janji sama beberapa kawan, untuk membagi oleh-oleh trip kemarin di sini. Ok deh, yuk mari kita mulai.
Jumat pagi, check out dari Sheraton Bandung jam 07:30, naik travel jam 08:30, sampai Bintaro jam 11:00. Tadinya cuma mau tuker koper dari Bandung dengan tas yang akan di bawa ke Lampung. Tapi yaaah akhirnya saya packing ulang. Bongkar lagi... supaya perlengkapan snorkling bisa diangkut. Yes, saya niat bener snorkling di Kiluan sampai saya beli fin-masker-snorkel Cressi di www.alatselam.com minggu sebelumnya. Dan terbukti nanti, saya tidak menyesal...
Berangkat ke Bandar Lampung, dengan GA108. Boarding on time, tapi take-off terlambat satu jam! Banyak pesawat antri buat terbang di landasan. Waktu saya lihat dari jendela, di belakang GA108 yang saya tumpangi, masih ada lima pesawat antri... Ampuun!!
Rombongan kali ini terdiri dari saya, Ira, Icha, Ina, mami (emaknya Ira), dan ibuk. Trip kali ini adalah untuk kesekian kalinya liburan saya bareng Ira, Icha, dan Ina.
Jumat malam, kami nginep di htl Amalia dulu di Bandar Lampung. Lumayan, ketemu Sule. Tulisan ttg Sule, ada di jurnal setelah ini ya.
Sabtu pagi, jam 07:30 kami meluncur ke Teluk Kiluan. Dari Bandar Lampung ke Teluk Betung, jalan mulus. Masuk wilayah Lempasing terus ke Punduh Pedada, jalan mulai menyempit. Berkelok-kelok dan naik turun. Kadang berlumpur, sering juga berbatu.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan hutan hijau di kanan kiri jalan, selang seling dengan perkebunan kopi atau coklat. Sesekali akan terlihat laut biru yang luas, di sebelah kiri tebing-tebing jalan yang kita lalui. Terlihat juga tambak udang di sisi kiri jalan, langsung berbatasan dengan laut.
Ada pemandangan unik beberapa kilometer menjelang Kiluan. Saya sempat melihat ada perkampungan adat Bali, lengkap dengan gapuranya yang khas, juga kain sarung kotak-kotak hitam putih dan kain kuning di depan setiap rumah. Menurut pak Tony, supir kami, ada kurang lebih 30 kk Bali di desa itu.
Kira-kira jam 11:30, kami tiba di wilayah ekowisata kampung Bandung, Kiluan. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, keindahan Teluk Kiluan terlihat di depan mata. Takjub dan bahagia, itulah dua kata yang mewakili perasaan kami ketika pertama kali tiba. Sejauh mata memandang ke depan membentang birunya laut, memandang ke belakang hijaunya hutan pegunungan Bukit Barisan.
Alhamdulillah, sepanjang perjalanan Icha dan Ina tidak rewel. Walaupun sempat Icha bertanya berapa jam lagi, ma? hahahaha
Di tempat pemberhentian mobil, kami masih harus naik perahu jukung selama kurang lebih 10 menit, untuk menuju Pondok Anak Abah tempat kami akan menginap. Sebenarnya, di pinggir pantai itu saya lihat beberapa rumah panggung (istilahnya homestay) yang disewakan. Namun sayang, tampak kurang terawat dan terlihat seadanya.
Pondok Anak Abah berhadapan langsung dengan Pulau Kelapa. Selesai dibangun bulan September 2011, bangunan ini layak pakai walaupun sederhana. Fasilitasnya kamar lengkap dengan tempat tidur dan furniture, kamar mandi, air bersih/tawar, listrik kalau malam, dan makan (pagi-siang-malam) atau tergantung permintaan.
Pantai di depan pondok, bersih dan landai, berpasir putih, ombak yang tenang, air yang jernih, dan ikannya banyak. Suasananya hening, hanya terdengar debur ombak, dan sesekali suara perahu motor. Eh tapi kadang terdengar jeritan Icha dan Ina yang main pasir di pantai. Cocok sekali untuk tempat istirahat. Dan jangan harap bisa ada sinyal hape atau tivi di sana yaa....
Kami menghabiskan siang dan sore dengan tidur-tiduran di hammock, bermain di pantai, minum teh hangat. Ahhh, nikmatnya... Puas main di pantai, saya tidur dengan sukses... Rugi sebenernya, sampai sana malah tidur. Tapi siapa yang bisa menahan nikmatnya angin sepoi-sepoi?
Makan malam kami, berupa ikan bakar yang beratnya 5 kg, dengan panjang kurang lebih satu meter. Orang sana menyebutnya ikan lemadang. Nasi liwet masakan Kang Tatang, merupakan nasi liwet paling enak yang pernah saya makan. Gurih, dengan bumbu yang royal, tingkat kematangan yang pas, dan aroma yang harum. Hmmm saya nambah tiga kali lho... #jujur
Jam sembilan malam, kami sudah pergi tidur, supaya bisa bangun pagi untuk atraksi utama liburan ini.
Yaah, namanya udah biasa tidur maksimal lima jam, walhasil saya bangun jam dua dini hari. Sunyi senyap.. cuma terdengar debur ombak, suara genset dan jangkrik. Sesekali, suara anjing menggonggong. Saya tidur lagi sampai subuh.
Mulai setengah enam, kami bersiap untuk melihat lumba-lumba. Ganti baju, pakai sunblock, siapin tas untuk bawa minum, snack, dan kamera. Ohya, kang Tatang juga membagikan life jacket untuk peserta. Kami (saya, Ira, dan Icha) semua bisa berenang, tapi memastikan semua peserta memakai life jacket merupakan SOP nomor satu. Bagaimana tidak? Kami akan keluar dari Teluk Kiluan yang tenang, menuju perairan Samudra Hindia yang ombaknya garang.
Kami berangkat kira-kira jam enam pagi, menuju tempat atraksi kurang lebih 30 menit. Bersama kami, ada kurang lebih lima perahu lain, dari rombongan berbeda. Patokan lokasinya kurang lebih setelah laut melewati batas daratan terakhir, dilihat yang lurus dari tempat kita.
Kami menunggu kira-kira lima menit, sebelum lumba-lumba pertama muncul. Setelahnya, lumba-lumba susul menyusul menari, melompat, sendiri-sendiri maupun rombongan. Haduuuh, saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu. Melihat lumba-lumba yang cantik itu demikian dekat dengan saya. Tidak putus-putus kami mengucap: Masya Allah... Subhanallah... dan juga tepuk tangan serta teriak-teriak memanggil. Kabarnya, semakin ramai kami tepuk tangan, semakin beraksi. Dan itu terbukti... susul menyusul mereka muncul ke permukaan... berenang, dan susul menyusul dengan perahu kami. Kami kembali ke teluk setelah matahari mulai tinggi. Lumba-lumba tidak mau muncul kalau sudah siang dan panas. Ahhh, belum puas rasanya... Maafkan kalau di video ini, suara yang terdengar sangat 'liar'... maklum, emosi jiwa, tidak kuasa menahan rasa...
Jam delapan, tiba di pondokan, baru terasa lapar. Alhamdulillah nasi uduk, ayam-tahu-tempe goreng masakan kang Tatang sudah tersedia. Wuuiiiih, enaknya.
Kegiatan berikutnya adalah: snorkling. Kami bertiga bawa alat masing-masing, walaupun pondok menyediakan alat buat disewa. Tapi berdasarkan pengalaman, saya jarang sekali dapat peralatan dengan ukuran pas, kecuali waktu ikut Carbonate Field Trip ke Pulau Seribu bersama Cliff Jordan dulu sekali.
Haduuuh, senangnya saya snorkling di sana. Tidak perlu jauh-jauh ke tengah naik perahu, kami sudah menjumpai terumbu karang, yang dihuni ikan, kecil dan besar dalam jumlah banyak, dengan warna beragam. Ada ikan badut, ikan injel, kakap kecil, lobster... dan jenis-jenis ikan yang saya tidak tau namanya..
Bertiga kami snorkling, berdekatan, berebutan saling tunjuk ikan-ikan yang berenang di sekeliling kami. Sayang sekali, kami tidak bisa lama-lama di air, karena jemputan kami akan datang jam 10. huhuhu belum puas nih...
Kami sepakat, satu malam di Kiluan masih kurang, dan kami ingin ke sana lagi secepatnya.
Oh iya, ini gambaran biaya yang kami keluarkan kemarin:
Pesawat JKT-TKG v.v +/- 700 ribu per orang (GA), hotel di bandar lampung 800 ribu/malam, transport darat ke kiluan 800 ribu v.v (mobil tergantung persediaan, kemarin pakai Xenia dan APV), perahu ke Pondok Anak Abah 5 ribu per orang sekali jalan, perahu untuk lihat dolphin 250 ribu sekali jalan buat 3 orang, penginapan 400 ribu/malam (termasuk bahan bakar genset) per malam, sekali makan 20 ribu per orang.
Untuk info lebih lengkap, silakan hubungi:
Teh Empat +62 813 79600033
Kang Tatang +62 821 85393027
twitter @kiluandolphin
Monday, July 18, 2011
Liburan Pendek di Tanjung Lesung
Hore! Liburan lagi... !! Siapa sih, yang gak suka liburan? Pasti semua suka. Buat saya, liburan itu wajib hukumnya. Dan sepertinya, tahun 2011 ini saya boros sekali buat berlibur hehehe
Trip ini adalah kali ke tiga saya berlibur bersama Ira dan anak2nya, setelah ke Bali (Jan 2011) dan Singapur bulan lalu. Pilihan tujuan sebenarnya ada dua, yaitu pulau Seribu (belum ditentukan pulaunya) atau Tanjung Lesung. AKhirnya pilihan jatuh ke Tanjung Lesung, karena cuma perlu trip darat (kecuali ingin nyebrang ke Pulau Umang). Kalau ke p. Seribu, kami kuatir Icha & Ina bete kelamaan naik perahu.
Tujuan udah ditentukan, sekarang giliran reserve waktu dan tempat (hotel). Browsing-browsing, telpon sana-sini, dapat rekomendasi untuk nginep di Kalicaa Villa, yang merupakan salah satu villa/cottage di Tanjung Lesung Resort. Kami pilih Villa Bora-bora 3 (tiga kamar tidur) plus kolam renang. Maksudnya supaya langsung nyebur kolam klo malas ke pantai. Oh iya, selain Ira dan keluarga, saya dan Ibu, ada juga Oma dan Nenek.
Perjalanan menuju TKP makan waktu +/- 5 jam, relatif lancar kecuali di tol yang banyak perbaikan (katanya sih menjelang libur Lebaran bulan depan). Saya berangkat dari Bintaro, terus masuk tol sampai BSD, dan langsung ke tol Jkt-Merak. Terus keluar di Serang Timur, lanjut arah kota Pandeglang dan Labuan, ikutin aja jalannya sampai Tanjung Lesung di ujung. Ini peta lokasinya ya. Ambil di sini:
Tanjung Lesung itu.. enaaak tempatnya. Panorama alamnya indah, pasirnya halus walaupun ada beberapa spot yang berkarang, dan anginnya sepoi-sepoi. Pantainya? Subhanallah, airnya bening dan bersih, dengan hamparan pasir pantai yang landai dan luas. Posisi pantai yang tidak menghadap langsung ke samudera lepas membuat tiupan angin dan deburan ombak kawasan ini tidak terlalu besar.
Jalan di kawasan villa dinaungi oleh dahan pohon yang menyerupai kanopi. Bahkan, di beberapa tempat terlihat seperti terowongan.
Fasilitas hotel juga oke banget. Dapat makan pagi (indonesian or american breakfast) dan malam (aneka hidangan laut). Bisa sewa sepeda kalau mau keliling resort, juga macam2 aktifitas di laut seperti: banana boat, snorkeling, sea kayak, dan sepeda air.
Jadi, jangan bingung gak punya kegiatan selama di sana. Bisa makan enak, main air, main sepeda, tidur, makan lagi, jalan-jalan, main sepeda lagi, berenang lagi.. hahaha apa lagi coba?
Foto lainnya di sini yah...
Monday, April 5, 2010
Catatan Umrah #2b - Seputar Masjid Al-Harom
Setelah beristirahat selama 2 jam pasca umrah pertama, saya dan ibu kembali ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Subuh. Lagi-lagi janji Allah yang akan membalas semua ibadah di Mekkah sebesar 100 ribu kali lipat, menjadi pamrih saya. Bayangkan, siapa yang tidak tergiur....
Seperti di Masjid Nabawi - Madinah, di Masjid Al-Harom Mekah pun adzan subuh dikumandangkan dua kali. Yang pertama, jam 4 pagi sedangkan yang kedua jam 5, dilanjut dengan qamat 30 menit kemudian.
Masjid Al-Harom setelah subuh:
Foto berdua emak setelah subuh:
Masjid Al-Harom adalah satu-satunya masjid di dunia yang mempunyai keistimewaan, tidak ada shalat tahiyatul masjid di sana. Karena, shalat sunah tahiyatul masjid itu diganti dengan tawaf sunah keliling Ka'bah.
Orang sedang tawaf, foto diambil dari lantai dua masjid:
Di tanah suci Mekah dan Madinah, banyak tempat mustajab untuk berdoa. Tempat itu adalah: Hajar Aswad, Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, sumur zamzam, Bukit Safa dan Marwah dan Raudhah di Madinah.
Mempunyai kesempatan berada di tempat-tempat tersebut dalam keadaan tidak seramai musim Haji 2008, tentu tidak saya sia-siakan. Perkiraan saya, waktu 'longgar' adalah sebelum dzuhur, karena panas sudah mulai menyengat dan orang agak segan bertawaf. Perkiraan saya tepat, Alhamdulillah...
Sambil bertawaf, saya tidak henti-hentinya berdoa. Selesai tawaf dan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, iseng-iseng saya menuju Hijir Ismail. Dan, saya melihat beberapa askar (penjaga) tampak berdiri di dalam Hijir Ismail. Iseng saya masuk ke dalam, dan ternyata mereka tidak menghalangi saya. Tumben, ada karpet merah, harum.... dan laki-laki bergamis putih dengan tutup kepala hitam dan benang emas. Dugaan saya, mereka pejabat kerajaan. Tanpa kesulitan, saya bisa shalat di dalam Hijir Ismail, dan bersujud di atas karpet merahnya. Kalau saja saya egois, ingin rasanya saya berlama-lama, shalat, meratap dan berdoa di sana. Doa-doa titipan teman, saudara, saya bacakan lagi di sini..setelah sebelumnya saya baca pula di Madinah. Semoga Allah mengijabah doa-doa tersebut. Amin...
Dari sana, saya kembali mengikuti arus orang yang sedang tawaf dan tiba di Rukun Yamani. Dari Rukun Yamani, saya melihat antrian orang yang akan menyentuh Hajar Aswad sudah panjang dan padat. Tapi... kenapa sebagian besar laki-laki? hmmm.... menarik sekali! Kemana perempuannya?
Saya sedang berpikir untuk mencari cara menyentuh Hajar Aswad ketika adzan dzuhur berkumandang. Jadi saya harus segera mencari tempat untuk shalat...
Ini foto selesai shalat, di dalam masjid:
Catatan Umrah #2a - Mekkah untuk Umrah pertama
Setelah berziarah dan melakukan ibadah di Madinah, perjalanan di lanjutkan ke Mekkah Al Mukaromah. Kota suci pertama bagi umat Islam.
Sebelum meninggalkan Madinah, saya sudah melakukan mandi sunnah sebelum ihram. Sedangkan miqat akan dilakukan di Bier Ali, yang berjarak 30 menit perjalanan darat dengan bis. Dari Bier Ali inilah rangkaian ibadah umrah dimulai, yaitu shalat sunnah ihram 2 rakaat dilanjutkan dengan niat umrah (Nawaitu umrota wa ahromtu biha lillahi ta'ala ~ dengan ini saya berniat umrah dengan berihram, karena Allah)
Setelah berihram dan niat umrah dibacakan, haram lah apa yang sebelumnya halal. Jadi sebaik-baiknya yang dilakukan sepanjang perjalanan dari Bier Ali ke Mekkah adalah melafalkan kalimat talbiyah.
Kami tiba di Mekah jam 11 malam. Diberikan pilihan untuk istirahat dulu di hotel baru ke Masjid Al-Haram untuk shalat subuh, baru tawaf-sai-tahalul, atau langsung ke masjid. Tentu saja saya dan ibunda pilih langsung pergi ke masjid. Hehehe menurut saya ini tidak masalah, ibu saya sudah lebih sering ke sini dari pada saya... dan beliau kuat lahir bathin. Ooo, ibuku sungguh luar biasa
Beruntunglah kami, hotel hanya berjarak 15 menit jalan kaki dari Masjid al-Harom. Masuk dari Babul Malik Abdul Azis, kami melihat Ka'bah. Langsung kami berdoa dan minta Allah untuk menambah kemuliaan Baitullah dan orang-orang yang memuliakannya. Ka'bah dan Masjid terlihat lengang malam itu. Kami langsung menuju area berkarpet merah untuk menunaikan shalat Maghrib + Isya dijamak takhir.
Selanjutnya, kami menuju area tawaf untuk mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Hajar Aswad, Rukun Yamani, Hijir Ismail, dan Maqom Ibrahim betul-betul terlihat lengang tidak seperti waktu saya berhaji tahun 2008, membuat saya tergoda untuk menghentikan tawaf saya dan berdoa di tempat-tempat mustajab tersebut. Akan tetapi, saya harus menyelesaikan tawaf saya dahulu sebelum melakukannya. Tujuh putaran bisa kami selesaikan dalam waktu 15 menit dilanjutkan dengan shalat sunnah setelah tawaf di belakang Maqam Ibrahim dan minum air zamzam.
Dari hadapan Ka'bah, kami menuju area Sa'i, yaitu tempat antara bukit Safa dan Marwah. Lagi-lagi tempat ini terasa lengang dan santai, orang bersa'i dengan tenang dan tidak terburu-buru. Alhamdulillah, kaki saya pun terasa ringan melangkah walaupun belum tidur sejak jam tiga pagi.
Bukit Marwah sudah terlihat lebih rapi dibanding tahun 2008. Begitu juga area istirahat dan tempat mengambil air zam-zam di jalur Safa & Marwa, sudah rapi.
Selesai Sa'i, saya dan ibu melakukan tahalul (mencukur rambut). Dengan demikian berakhir sudah rangkaian ibadah umrah saya yang pertama. Alhamdulillah... semoga menjadi umrah yang mabrur dan diterima. Amin
Sunday, April 4, 2010
Catatan Umrah #1 - Madinah
Wisata-ibadah-ziarah kali ini, dimulai di Madinah Al Munawaroh, kota yang bercahaya, tempat dimakamkannya Nabi Besar Muhammad SAW.
Masjid Nabawi yang terang benderang... kabarnya cahaya lampunya bisa terlihat dari angkasa. Mungkin dari sanalah sebutan Al Munawaroh berasal...
Masjid Nabawi setelah subuh:
Masjid Nabawi di malam hari:
Ibadah di Madinah bukan hanya sekedar shalat di Masjid Nabawi yang nilainya 1000 kali lebih baik dibandingkan sholat di masjid biasa, tetapi juga berziarah ke makam Rasulullah SAW. Dari luar Masjid Nabawi, terlihat Green Dome, kubah hijau yang dari kejauhan tampak sangat memukau. Di bawah kubah itulah, manusia terbaik sepanjang zaman dimakamkan bersama dua sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Di depan Raudhah:
Dari dalam masjid terlihat, makam Rasulullah SAW berwarna hijau keemasan. Melihat dari kejauhan saja, air mata saya sudah bercucuran. Yang sering dilupakan adalah membaca doa dan salam saat ziarah ke makam Rasulullah, karena jamaah terlalu berkonsentrasi mencari tempat untuk sholat sunat.
Di dekat makam Rasul ada sebuah tempat yang paling cantik dibanding seluruh bagian masjid di dalam masjid. Tempat tersebut berwarna putih keemasan dan tak pernah kosong dari jamaah. Itulah Taman Surga, Raudhah.
Raudhah itu tidak seberapa luas, tak lebih 144 m2. Lokasinya ditandai dengan lima pilar besar berwarna putih dengan kaligrafi yang sangat indah. Lantainya diberi permadani berwarna hijau putih, berbeda dengan permadani di areal Masjid Nabawi lainnya yang berwarna merah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tempat yang terletak di antara rumahku dan mimbarku, merupakan suatu taman di antara taman-taman surga" (HR Bukhari, dari Abu Hurairah)
Hadist tersebut ditafsirkan oleh para ahli. Antara lain di tempat itulah Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagiaanNya karena dilakukan zikir yang tentu saja surga balasannya. Tempat itu pula akan dipindahkan oleh Allah SWT ke surga setelah kiamat kelak, sehingga menjadi bagian taman surga yang hakiki.
Subhanallah, penuh haru dada ini ketika saya berkesempatan menginjakkan kaki saya lagi di Raudhah dan sholat dua rakaat di sana. Karpet yang hijau berbunga putih dan harum yang membentang di dalamnya, pilar-pilar cantik berhiaskan ukiran emas...
Assalamu'alaika ya Rasullulah.. Assalamu'alaika ya Habiballah... Assalamu'alaika ya Nabiyullah... Tak putus salam untuk Rasullulah saya panjatkan...
Selain Masjid Nabawi, di Madinah juga terdapat Masjid Quba - masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulluah dan masjid Qiblatain - masjid yang pernah berkiblat ke Masjid Al-Aqsa sebelum berkiblat ke Ka'bah.
Masjid Quba:
Di Madinah kali ini, saya berkesempatan tinggal di hotel yang letaknya hanya 5 menit berjalan kaki dari masjid. Hal ini pastinya menambah niat saya untuk bisa sesering dan secepat mungkin berada di mesjid, melakukan ibadah-ibadah sunnah dan wajib. Alangkah ruginya saya, apabila saya hanya bermalas-malasan di hotel sedangkan Allah menjanjikan 1000 kali lipat pahala bagi siapapun yang melakukan ibadah dan amal sholeh di kota suci Madinah.
Yang terlihat berbeda dari kunjungan saya sebelumnya tahun 2008 adalah penambahan payung-payung di luar masjid. Payung tersebut akan terbuka ketika matahari panas terik dan menyengat, dan akan tertutup menjelang senja ketika matahari terbenam.
Bertemu saudara dari berbagai tempat di dunia:
Banyak kota besar di dunia yang telah saya kunjungi, tapi tak pernah menimbulkan rasa seperti ketika saya berada di Madinah. Masjid dan kubah hijau serasa memanggil saya.. salawat memenuhi hati saya... bahkan saya bisa menikmati shalat di luar mesjid sedangkan matahari bersinar terik.
Tak terasa, tiga hari sudah saya berada di sana. Saya akan selalu rindu.. rindu untuk berkunjung ke sana lagi...
Sunday, November 8, 2009
Seminggu di Yogya
Saya datang lagi. Seminggu lalu saya ada di Yogya, untuk ikutan training yang awalnya saya daftar karena iseng belaka. Alhamdulillah, rejeki bagus… selesai operasi gigi, disuruh refreshing ke Yogya. Saya gak pernah bosan ke Yogya. Pernah saya tinggal selama dua minggu di sana, cuma untuk makan, tidur, jalan-jalan dan leyeh-leyeh
Kali ini, saya ajak Ibu dan Tante Hani. Berangkat tgl 1 Nov, naik GA210, pulang tgl 7 Nov naik GA207. Tante hani dengan noraknya bilang gini: “gila lu ye, ningnong….. gue sering banget ke yogya, tapi gak pernah naik GA.. mana nginep di Melia Purosani pula….emang service memuaskan banget deh ‘anak tiri’ gue yang satu ini” huahahaha
Thanks to C*****n, yang uda mau bayarin tiket pesawat dan hotel saya … Emang servisnya memuaskan banget. Kalo kata Ina, dipecatpun tak mau aku keluar dari C*****n
Seminggu di Yogya, dikasih transport dan hotel enak, bikin saya kalap. Kalap makan-makan, belanja-belanja, dan jalan-jalan. Tak terkecuali, ibu + tante Hani…yang sehari bisa dua kali pelesir ke pasar Bringharjo
Senin sampai kamis, saya ikut training. Peserta training berasal dari berbagai latar belakang di industry migas. Ada yang dari technical, planning, finance, dan operation. Buat saya sendiri, materi training tidak benar-benar baru. Keuntungan yang saya dapat adalah refreshed my brain and heart and my soul hahaha lebay…
Tiap sore selesai training, kami bertiga jalan ke malioboro. Acaranya makan pempek Ny. Kamto. Walaupun saya sudah pernah ke Palembang dan icipin pempek asli, lidah saya lebih cocok dengan pempek Ny. Kamto. Lokasinya, terletak di belakang toserba RAMAI. Selesai makan pempek, kami ke Mirota. Cuci mata sambil pegang dompet kuat-kuat J J Menjelang magrib, kami pulang jalan kaki ke hotel, buat mandi dan sholat.
Malam hari, kami keluar lagi untuk makan malam. Favorit kami adalah gudeg di depan pasar. Penjualnya pakai gerobak, dan ada tempat untuk lesehan di sebelahnya. Selain gudeg dan pelengkapnya (ayam suwir, telor, sambel goring krecek), di sini dijual juga sambel goreng jengkol (cihuiiiii), oseng-oseng mercon, dan oseng kikil. Ketiganya secara bergantian jadi menu makan malam saya selama di Yogya. Tentu saja saya tidak melupakan mie godog Yogya. Kali ini saya pindah tempat di Bakmi Pele (dekat kraton) atau sekitaran malioboro.
Hari jumat, EO training mengadakan acara ke Candi Borobudur, Kali Urang, dan pusat oleh2 di Pathuk. Gak ketinggalan dua orang emak-emak ikutan acara tour ini.
Candi Borobudur sekarang terlihat lebih rapid an bersih sejak terakhir saya ke sana. Penjual barang dan makanan hanya dibatasi sampai pagar sebelum pintu masuk. Tidak terlihat lagi para penjual di pelataran bawah sekitar candi.
Di bawah ini, foto sebagian peserta training + dua emak-emak bodyguard saya
Di sebelah saya, foto stupa yang selamat dari terror bom beberapa tahun lalu.
Arca di dalamnya bernama Kuntobimo. Pssst, saya berhasil menyentuh arca itu lho…ada tekniknya sih…sudah didemokan oleh guidenya.
Ini foto saya dengan emak. Liat, emak gue awet muda kan? Hihihihi
Dari Borobudur kami meluncur ke Kali Urang. Tidak lupa mampir makan siang mangut ikan nila dan belanja salak pondoh di kebunnya.
Di Kali Urang, kami masuk ke museum Ullen Sentalu (Museum Budaya Yogya). Museum ini diresmikan tahun 2002 (?), berisi sejarah dan asal muasal keraton kesultanan Yogya, sejak jaman Panembahan Senopati diikuti perjanjian Gianti yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Museum ini juga menyimpan berbagai koleksi kain batik, baju-baju adat, foto-foto, dan surat-surat . Kunjungan diakhiri dengan minum wedang hangat yang terbuat dari jahe, kencur, gula merah, daun jeruk, cengkeh dll. Hmmm, nikmat….
Terakhir, belanja oleh-oleh di Pathuk. Kami dibawa langsung ke pabrik Bapia Pathuk 25. Huhuhu batere kamera saya habis, jadi saya tidak bisa mendokumentasikan para pekerja pabrik Bapia in action.
Yogya, memang berhati nyaman… bikin hati tentram… saya ingin liburan ke sana lagi… kotanya ngangeni…makanannya juga… Tapi tadi pagi, saya timbang badan… seminggu di yogya, berat badan naik 3kg!! Waduuuh, payah!!