Friday, March 29, 2013
Mari Berlatih
Saya galau, karena waktunya cuma selang seminggu dari BMBM.
Tapi...seperti Kiky bilang, lari 10K seperti yang saya daftar di BMBM, bisa kapan aja di mana aja.
Sedangkan triathlon, apalagi yang relay seperti kami ikutin, susah ngumpulin orangnya.
Rencananya, Ira akan renang 1K, Caki sepedaan 20K, dan saya lari 10K.
Errrr, Caki masih usaha buat tukeran sama saya.
Beberapa kali dia bilang: gimana klo saya lari, kamu sepedaan?
Hehh? Saya tuuu terakhir naik sepeda puluhan tahun lalu.
Huaaaa, saya pengen nangis bahagia ...
Belom apa-apa, udah kebayang serunya!
Apalagi dengan godaan setelah triathlon, kita bisa dive trip rame-rame di Bali.
Mumpung ada Caki, bisa jadi robi-kita....wkwkwkwk
Kami bertiga mulai berlatih minggu lalu.
Rabu pagi, Ira renang 1K di GOR Sumantri yang airnya butek.
Rabu malam, kami bertiga lari di GBK.
Saya dan Caki dapat 8K, Ira 3K... and we had so much fun.
Capek tapi happy...
Jadi, mari berlatih lagi.
Kuatin niat, dan jangan lupa belanja gear biar tambah semangat.
Jangan lupa juga buat foto-foto klo nanti latihan.
Kita belum punya foto bertiga lho..
...lirik Garmin Forerunner punya Ira. Gede bener sih, Ra! *padahal pengen*
Thursday, July 5, 2012
Senangnya Berlibur...
Saya senang berlibur! Pernah dulu sekali, kalau ditanya apa hobi saya, maka saya akan jawab: berlibur (selain masak dan baca buku).
Kalau saya, liburan gak mesti tunggu anak-anak sekolah libur. Hahaha ya iya laah, saya gak punya anak. Jadi saya bisa libur kapan aja saya mau...
Di musim liburan seperti sekarang, saya malah lebih suka kerja. Saya bisa menikmati hari-hari ke kantor tanpa macet. Cuma yaaa gitu deeh, mall sebelah kantor isinya rame anak-anak kecil... dan jalan menuju tempat hiburan dijamin macet hihihi
Buat sebagian orang, pergi berlibur masih merupakan hal yang mewah. Yaaaa iya laaahh... tiket untuk transport, hotel, makan, dan lain-lain jadi lebih mahal di musim libur. Hotel Mandarin Orchard yang regular rate-nya SGD 295 semalam, bisa jadi SGD 400. Belom tiket pesawatnya, yang harga tiket budget air bisa gila2an klo gak pesan jauh-jauh hari, apalagi SQ atau GA hihihihi
Jadi kalau saya, menyiasatinya dengan tidak mengganggu gugat dana liburan yang selalu saya terima di awal tahun. Lalu saya kunci, sampai nanti waktunya ingin berlibur. Kalau masih ada sisa, saya biarin aja.. nanti dapat lagi tahun depan, tambah banyak deh.. hihihihi senaaang!
Saya gak mesti kemana-mana untuk berlibur. Saya bisa cukup puas tinggal di rumah aja, bangun siang, minum kopi sambil baca buku, pergi ke pasar, makan siang ke luar, coba-coba resep baru, atau tidur tanpa gangguan sepanjang hari.
Liburan buat saya, juga gak mesti mahal. Seringnya saya pilih hari sepi dan murah. Jadi selisihnya bisa saya pakai buat bela beli yang lain... Atau ya itu tadi di rumah aja, nonton dvd sampai pegel, gak keluar biaya.
Saya bukan orang yang merencanakan liburan sejak jauh-jauh hari, kecuali untuk liburan yang perlu urus-urus visa. Jadi kalau hari ini mendadak saya pengen jalan, ya saya bisa pesan tiket dll hari ini juga, untuk wiken berikutnya.
Hal teraneh yang pernah saya lakukan adalah mendadak pengen ketemu temen lama yang sedang berada di Kuala Terengganu, Malaysia. Kamis chat sama dia, Sabtu pagi saya berangkat, naik ferry dari Dumai ke Melaka, dari Melaka naik bis ke KL, di KL ketemuan sama temen lain, baru deh naik bis lagi ke Kuala Terengganu. Terus dari sana kami bertiga naik mubil ke Thailand.
Eh pernah juga saya mabok, pengen pergi sendiri. Kabur lah Lombok, seminggu! Nggak ngapa2in, cuma makan, tidur, dan ke pantai! Hahaha seru!
Kalau saya udah banyak bengong di tengah hari bolong, itu tanda saya sudah butuh liburan! hihihi Kalau udah begitu, maka saya buru-buru deh cek jadwal kerja, cari transport, dan korek-korek celengan.
Yuk.. mari berlibur!
Tuesday, December 6, 2011
Teluk Kiluan, Surga Lumba-lumba di Lampung Selatan
Arrrgghhhh.. selalu seperti ini tiap kali pulang liburan. Males nulis, cuma bisa ngelamun...atau ya, liat-liat foto dan videonya berulang-ulang.
Cuma, saya sudah terlanjur janji sama beberapa kawan, untuk membagi oleh-oleh trip kemarin di sini. Ok deh, yuk mari kita mulai.
Jumat pagi, check out dari Sheraton Bandung jam 07:30, naik travel jam 08:30, sampai Bintaro jam 11:00. Tadinya cuma mau tuker koper dari Bandung dengan tas yang akan di bawa ke Lampung. Tapi yaaah akhirnya saya packing ulang. Bongkar lagi... supaya perlengkapan snorkling bisa diangkut. Yes, saya niat bener snorkling di Kiluan sampai saya beli fin-masker-snorkel Cressi di www.alatselam.com minggu sebelumnya. Dan terbukti nanti, saya tidak menyesal...
Berangkat ke Bandar Lampung, dengan GA108. Boarding on time, tapi take-off terlambat satu jam! Banyak pesawat antri buat terbang di landasan. Waktu saya lihat dari jendela, di belakang GA108 yang saya tumpangi, masih ada lima pesawat antri... Ampuun!!
Rombongan kali ini terdiri dari saya, Ira, Icha, Ina, mami (emaknya Ira), dan ibuk. Trip kali ini adalah untuk kesekian kalinya liburan saya bareng Ira, Icha, dan Ina.
Jumat malam, kami nginep di htl Amalia dulu di Bandar Lampung. Lumayan, ketemu Sule. Tulisan ttg Sule, ada di jurnal setelah ini ya.
Sabtu pagi, jam 07:30 kami meluncur ke Teluk Kiluan. Dari Bandar Lampung ke Teluk Betung, jalan mulus. Masuk wilayah Lempasing terus ke Punduh Pedada, jalan mulai menyempit. Berkelok-kelok dan naik turun. Kadang berlumpur, sering juga berbatu.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan hutan hijau di kanan kiri jalan, selang seling dengan perkebunan kopi atau coklat. Sesekali akan terlihat laut biru yang luas, di sebelah kiri tebing-tebing jalan yang kita lalui. Terlihat juga tambak udang di sisi kiri jalan, langsung berbatasan dengan laut.
Ada pemandangan unik beberapa kilometer menjelang Kiluan. Saya sempat melihat ada perkampungan adat Bali, lengkap dengan gapuranya yang khas, juga kain sarung kotak-kotak hitam putih dan kain kuning di depan setiap rumah. Menurut pak Tony, supir kami, ada kurang lebih 30 kk Bali di desa itu.
Kira-kira jam 11:30, kami tiba di wilayah ekowisata kampung Bandung, Kiluan. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, keindahan Teluk Kiluan terlihat di depan mata. Takjub dan bahagia, itulah dua kata yang mewakili perasaan kami ketika pertama kali tiba. Sejauh mata memandang ke depan membentang birunya laut, memandang ke belakang hijaunya hutan pegunungan Bukit Barisan.
Alhamdulillah, sepanjang perjalanan Icha dan Ina tidak rewel. Walaupun sempat Icha bertanya berapa jam lagi, ma? hahahaha
Di tempat pemberhentian mobil, kami masih harus naik perahu jukung selama kurang lebih 10 menit, untuk menuju Pondok Anak Abah tempat kami akan menginap. Sebenarnya, di pinggir pantai itu saya lihat beberapa rumah panggung (istilahnya homestay) yang disewakan. Namun sayang, tampak kurang terawat dan terlihat seadanya.
Pondok Anak Abah berhadapan langsung dengan Pulau Kelapa. Selesai dibangun bulan September 2011, bangunan ini layak pakai walaupun sederhana. Fasilitasnya kamar lengkap dengan tempat tidur dan furniture, kamar mandi, air bersih/tawar, listrik kalau malam, dan makan (pagi-siang-malam) atau tergantung permintaan.
Pantai di depan pondok, bersih dan landai, berpasir putih, ombak yang tenang, air yang jernih, dan ikannya banyak. Suasananya hening, hanya terdengar debur ombak, dan sesekali suara perahu motor. Eh tapi kadang terdengar jeritan Icha dan Ina yang main pasir di pantai. Cocok sekali untuk tempat istirahat. Dan jangan harap bisa ada sinyal hape atau tivi di sana yaa....
Kami menghabiskan siang dan sore dengan tidur-tiduran di hammock, bermain di pantai, minum teh hangat. Ahhh, nikmatnya... Puas main di pantai, saya tidur dengan sukses... Rugi sebenernya, sampai sana malah tidur. Tapi siapa yang bisa menahan nikmatnya angin sepoi-sepoi?
Makan malam kami, berupa ikan bakar yang beratnya 5 kg, dengan panjang kurang lebih satu meter. Orang sana menyebutnya ikan lemadang. Nasi liwet masakan Kang Tatang, merupakan nasi liwet paling enak yang pernah saya makan. Gurih, dengan bumbu yang royal, tingkat kematangan yang pas, dan aroma yang harum. Hmmm saya nambah tiga kali lho... #jujur
Jam sembilan malam, kami sudah pergi tidur, supaya bisa bangun pagi untuk atraksi utama liburan ini.
Yaah, namanya udah biasa tidur maksimal lima jam, walhasil saya bangun jam dua dini hari. Sunyi senyap.. cuma terdengar debur ombak, suara genset dan jangkrik. Sesekali, suara anjing menggonggong. Saya tidur lagi sampai subuh.
Mulai setengah enam, kami bersiap untuk melihat lumba-lumba. Ganti baju, pakai sunblock, siapin tas untuk bawa minum, snack, dan kamera. Ohya, kang Tatang juga membagikan life jacket untuk peserta. Kami (saya, Ira, dan Icha) semua bisa berenang, tapi memastikan semua peserta memakai life jacket merupakan SOP nomor satu. Bagaimana tidak? Kami akan keluar dari Teluk Kiluan yang tenang, menuju perairan Samudra Hindia yang ombaknya garang.
Kami berangkat kira-kira jam enam pagi, menuju tempat atraksi kurang lebih 30 menit. Bersama kami, ada kurang lebih lima perahu lain, dari rombongan berbeda. Patokan lokasinya kurang lebih setelah laut melewati batas daratan terakhir, dilihat yang lurus dari tempat kita.
Kami menunggu kira-kira lima menit, sebelum lumba-lumba pertama muncul. Setelahnya, lumba-lumba susul menyusul menari, melompat, sendiri-sendiri maupun rombongan. Haduuuh, saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu. Melihat lumba-lumba yang cantik itu demikian dekat dengan saya. Tidak putus-putus kami mengucap: Masya Allah... Subhanallah... dan juga tepuk tangan serta teriak-teriak memanggil. Kabarnya, semakin ramai kami tepuk tangan, semakin beraksi. Dan itu terbukti... susul menyusul mereka muncul ke permukaan... berenang, dan susul menyusul dengan perahu kami. Kami kembali ke teluk setelah matahari mulai tinggi. Lumba-lumba tidak mau muncul kalau sudah siang dan panas. Ahhh, belum puas rasanya... Maafkan kalau di video ini, suara yang terdengar sangat 'liar'... maklum, emosi jiwa, tidak kuasa menahan rasa...
Jam delapan, tiba di pondokan, baru terasa lapar. Alhamdulillah nasi uduk, ayam-tahu-tempe goreng masakan kang Tatang sudah tersedia. Wuuiiiih, enaknya.
Kegiatan berikutnya adalah: snorkling. Kami bertiga bawa alat masing-masing, walaupun pondok menyediakan alat buat disewa. Tapi berdasarkan pengalaman, saya jarang sekali dapat peralatan dengan ukuran pas, kecuali waktu ikut Carbonate Field Trip ke Pulau Seribu bersama Cliff Jordan dulu sekali.
Haduuuh, senangnya saya snorkling di sana. Tidak perlu jauh-jauh ke tengah naik perahu, kami sudah menjumpai terumbu karang, yang dihuni ikan, kecil dan besar dalam jumlah banyak, dengan warna beragam. Ada ikan badut, ikan injel, kakap kecil, lobster... dan jenis-jenis ikan yang saya tidak tau namanya..
Bertiga kami snorkling, berdekatan, berebutan saling tunjuk ikan-ikan yang berenang di sekeliling kami. Sayang sekali, kami tidak bisa lama-lama di air, karena jemputan kami akan datang jam 10. huhuhu belum puas nih...
Kami sepakat, satu malam di Kiluan masih kurang, dan kami ingin ke sana lagi secepatnya.
Oh iya, ini gambaran biaya yang kami keluarkan kemarin:
Pesawat JKT-TKG v.v +/- 700 ribu per orang (GA), hotel di bandar lampung 800 ribu/malam, transport darat ke kiluan 800 ribu v.v (mobil tergantung persediaan, kemarin pakai Xenia dan APV), perahu ke Pondok Anak Abah 5 ribu per orang sekali jalan, perahu untuk lihat dolphin 250 ribu sekali jalan buat 3 orang, penginapan 400 ribu/malam (termasuk bahan bakar genset) per malam, sekali makan 20 ribu per orang.
Untuk info lebih lengkap, silakan hubungi:
Teh Empat +62 813 79600033
Kang Tatang +62 821 85393027
twitter @kiluandolphin
Monday, January 7, 2008
Pulau Bangka, banyak pantai dalam satu hari
Daerah tujuan wisata utama di Pulau Bangka adalah pantai. Dalam 1 hari, bisa 5 pantai yang dikunjungi. Pantai pertama adalah Pantai Pasir Padi. Pantai ini mirip Kuta Bali, dengan pantai pasir yang landai dan panjang. Sayang, agak mendung hari itu
Kami makan siang di restoran tepi laut, namanya Biru Laut. Makanannya: Udang goreng, ikan jebung bakar, dan ikan pari kuah kuning :) Yang istimewa di sini adalah sambelnya. Sambal, dengan rasa terasi yang dominan. Kalau kurang pedas, bisa ditambah cabe rawit merah. Jangan lupa perasan jeruk kuncinya. Oh iya, jeruk kunci ini mirip sekali dengan lemon cui khas menado. Sebelumnya saya kira itu jenis jeruk yang sama, hanya beda nama karena beda daerah. Tapi menurut seorang kawan pakar kuliner Menado, jeruk kunci beda dengan lemon cui. Jeruk kunci lebih tebal kulitnya. Thanks, mbak Ema buat infonya!
Selanjutnya kami ke arah Sungai Liat. Kota Sungai Liat lebih besar dan lebih ramai dari ibukota Pangkal Pinang. Kami mampir sejenak di Pantai Anyar. Mmmm, pantai ini keliatan seperti wajah saya yang bopengan dan jerawatan akibat penambangan timah liar. Bukit-bukit pasir bekas galian yang dibiarkan begitu saja, juga lubang-lubang yang tidak direklamasi. Sayang deh
Dari sana, kami meluncur ke Pantai Tanjung Pesona. Menjelang senja, ada ajakan untuk menunggu matahari terbenam. Wakakaka kita ada di sisi timur kali… jadi gak bakal dapat pemandangan matahari terbenam. Pantai ini lebih berbatu dan berombak besar jika dibanding Pantai Pasir Padi yang berpasir dan tenang.
Pagi hari berikutnya, pindahan hotel ke Parai Resort di kabupaten Pangkal Pinang. Di jalan, sempat mampir ke Pantai Matras. Mirip-mirip Pantai Pasir Padi deh.
Begitu masuk kawasan resort, mata saya langsung menangkap tulisan Puri Ayu Martha Tilaar. Waaaaa, saya bisa spa di sini J Sebuah ide jenius langsung keluar dari kepala Amel. Gimana gak jenius, klo jauh-jauh dari Jakarta kami berdua malah mau spa di suatu tempat yang tenang dan jauh dari keramaian di satu sudut pulau Bangka. Kami berdua langsung pesan tempat untuk sorenya.
Selanjutnya, kami mengeksplorasi Pantai Parai Tengiri. Konon kabarnya, mantan presiden pertama RI pernah tetirah di daerah ini. Beliau menamakan pantai itu pantai Parai Tengiri, karena berada di daerah Parai. Pantai ini merupakan private beach, yang pengunjungnya hanya tamu hotel atau siapa saja yang mau membayar sejumlah uang yang cukup besar nilainya untuk selembar tiket masuk.
Bangunan hotel terletak di atas bukit, dan di bawahnya membentang pantai yang berbatu, berpasir, dan bonus daratan kecil yang menjorok ke laut. Awalnya kami ingin main banana boat atau jetski di pantai itu. Tapi kesibukan pihak hotel mempersiapkan acara tahun baru, membuat segala bentuk layanan hiburan di air itu menghilang.... wuuuuh, turun deh nilainya! Akhirnya kami hanya menceburkan diri ke pantai, main air dan foto-foto sepuasnya.
Tibalah waktu yang ditunggu. Going to the spa! Kami berdua sama-sama pilih Dewi Sri Spa – Sensual. ”Biar badan loe jadi sensual!” hahahaha Karena masing-masing dapat private room, gak jadi deh rencana dipijet dan dilulur sambil ngobrol seru seputar hidup dan cinta J
Hmmmm merem melek keenakan saya menikmati pijatan dan mendengar alunan musik yang menenangkan. Tidak terasa, 3 jam saya cuci otak dan cuci badan. Acara itu ditutup dengan segelas wedang jahe hangat. I feel good and sensual! Hahahaha
Malamnya, acara pergantian tahun dilewatkan di dalam kamar. Kenapa? Saya ngantuk, dan kekenyangan! Oh iya, makan malam saya di sana berupa Juju Steak. Daging sapi yang diiris tipis, dimasak di atas batu koral kecil panas. Sambil makan, mulut kami berdua tetap gak berhenti ngoceh. Gila, ngomongin apa aja sih kita?
Tau gak? Airport tax di Bangka cukup Rp 8,000 saja. Pantas, airportnya begitu sederhana hahahaha
Ayo ngomongin rencana liburan berikutnya! Dan yuukkk, mari menabung J
Palembang, bukan cuma pempek
A perfect time to get away from my routines.
No work
No computer
No emails
Sudah bisa ditebak, pempek asli
Mampir ke Mesjid Agung Palembang. Unik, karena ada unsur tionghoa di mesjidnya selain dominasi ukiran khas Palembang. Saya sempatkan sholat di sana dan tidak lupa foto-foto sesudahnya.
Kami makan malam di resto terapung di sungai Musi. Untuk mencapai restoran itu, kami harus naik perahu dulu. Seru, perahu kecilnya digoyang ombak sungai Musi. Kami pesan masakan khas Palembang berupa pindang ikan baung, kerang cabai, dan ikan kecil goreng yang mirip ikan wader di Jawa atau ikan bilih di SumBar. Saya suka pindang baungnya. Rasa asamnya pas, plus taburan daun kemangi jadilah pindang ikan yang segar.
Terus main ke Jembatan Ampera. ”Gak terasa yah..kalau kita sedang di atas jembatan!” hahahaha Kelihatannya, Palembang sedang bebenah diri menyambut program Visit Musi 2008.
Jam 4:30 pagi, check out from the hotel to catch up the plane to Pangkal Pinang Bangka. Sekali lagi, saya sempatkan berkeliling menikmati airport
Sunday, January 6, 2008
Isi Kameramu...Kebaikanmu...
Ina, ijinkan saya memakai judul yang hampir sama dengan judul tulisanmu. Sebabnya, cerita ini terjadi juga padaku di liburan yang lewat.
Saya asyik ceklak ceklik sendiri dengan kamera anyar. Saya kalap liat pemandangan pantai-pantai indah P. Bangka yang jarang dijamah. Sampai tidak sadar kalau saya tidak pernah ambil foto diri sendiri. Saya memang tidak terbiasa menandai saya pernah ke sana, atau ke sini, dengan foto diri saya di suatu lokasi hehehe Saya juga belum menemukan sudut terbaik dari diri saya untuk diambil fotonya dengan harapan bakal mirip JLo... hahaha
Sampai pagi ini saya ceting dengan Amel, teman seperjalanan. Dia bilang,"mbak...banyak foto mbak di kameraku"
Yah, Mel.. terima kasih buat kebaikanmu... jangan pernah menyesal, anggap aja itu tabungan amal buat masa depan nanti... :))
Waaaah, kok ceritanya sama persis dengan Ina & Thole ya?
Saya mau narsis dikit yah... ini satu foto saya, yang diambil oleh Amel di Pantai Parai Tenggiri, Bangka.