Saya termasuk orang yang jarang berpikir dua kali kalau berniat untuk memberi atau berbagi sesuatu. Karena kalau dipikir ulang, bisa-bisa saya berubah pikiran, dan niat itu akhirnya batal.
Tahun lalu, saya diberi hadiah ulang tahun oleh ibu saya. A shoulder bag, broken white, dengan tali kulit. Cantik, dan cewek banget deh! Sepertinya, ibu saya ingin anaknya lebih feminine J
Kemudian, tas itu saya pakai sewaktu berkunjung ke rumah pacar (waktu itu, sekarang udah mantan). Gak disangka, si mama camer (waktu itu, sekarang udah udah bukan camer) suka sekali sama tas itu. Hmmm, ting ting ting… Saya langsung berniat untuk membelikan tas yang sama buat hadiah ulang tahun beliau. Selang beberapa minggu, tas yang sama saya beli untuk beliau.
Sekali waktu, anaknya pernah menemani saya mencari jam tangan. Saya pengen beli jam Swatch, mengingatkan saya pada masa lalu, pakai jam warna warni. Anaknya ikutan melihat-lihat jam, tapi bukan Swatch melainkan jam lain yang..saya akui, bagus modelnya. Waktu itu, dalam hati saya berniat, ingin membelikan jam itu untuknya sebagai hadiah ulang tahunnya bulan Maret nanti. Akhirnya jam tersebut saya beli tanpa sepengetahuannya.
Siapa sangka, hubungan saya dan dia tidak berakhir baik. Untuk beberapa alasan, kami harus berpisah. Jam tangan dan tas itu sampai sekarang masih ‘teronggok’ rapi di salah satu sudut lemari di ruangan saya. Haruskah barang-barang itu saya alihkan penerimanya? Hmmm, buat saya, jawabannya adalah tidak. Barang-barang itu akan saya paketkan minggu ini, atau paling lambat minggu depan. Ya ya ya, ibu dan anak itu berulang tahun bulan Maret ini.
Kemarin sore, saya ‘mabok’ lagi. Seperti bisul yang mau pecah, akhirnya saya gak tahan untuk mengatakan pada seorang kawan baik saya, bahwa saya ingin memberinya sesuatu yang diimpikan selama ini. Sebenarnya, saya ingin tunggu hari ulang tahunnya… Tapi, mana saya tahan menunggu beberapa bulan lagi? Efeknya luar biasa! Dahsyat sekali. Saya dan kawan saya itu sama-sama merinding, tapi merinding yang menyenangkan. Senang rasanya bisa berbagi kebahagiaan dengannya.
Ketika saya berniat untuk memberi sesuatu pada seseorang, maka niat itu harus sampai ke tujuan walaupun jalannya ‘berliku’. Tidak ada niat apa-apa di balik itu, kecuali harapan semoga bisa memberi manfaat sebesar-besarnya. Dan semoga saya bisa ikhlas, sabar, dan tenang jiwanya… (Meimei, yang tenaaaang jiwanya ya… disyukuri keadaannya…. Miss u much, girl!)
Adalah menyenangkan buat saya, ketika saya bisa berbagi dengan orang-orang di sekitar saya. Itupun tidak selalu dalam bentuk barang. Kadang, perhatian lebih diperlukan… Semua tergantung kepekaan saya dan orang-orang di sekitar saya melihat situasi. Seperti sekarang ini... Kepala saya pusiiiiiiing! Banyak kerjaan yang belum selesai. Jumat libur di